Jurnal Keperawatan Karya Bhakti https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb <p>Publisher: <a href="https://stikeskbn.ac.id/">Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Bhakti Nusantara</a><a href="https://unimma.ac.id" target="_blank" rel="noopener"><br /></a>DOI prefix: <a href="https://app.dimensions.ai/discover/publication?search_mode=content&amp;search_text=10.56186%2Fjkkb&amp;search_type=kws&amp;search_field=full_search">10.56186/jkkb</a><br />p-ISSN: <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1578291448">2477-1414</a> <a href="http://u.lipi.go.id/1180427309" target="_blank" rel="noopener"><br /></a>e-ISSN: <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1578291448">2716-0785</a></p> <p>ID SINTA : <a href="https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/journals/profile/11082">https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/journals/profile/11082</a></p> en-US novidaprima@gmail.com (Novida Prima Wijayanti, S.Kep, Ns., M.Kep) tentylistyasari@gmail.com (Tenty Listyasari) Tue, 21 Apr 2026 15:45:43 +0700 OJS 3.3.0.11 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Asuhan Kebidanan Berkelanjutan (Continuity Of Care) Pada Ny. L Di PMB Rosidah, S.St, Bdn https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/255 <p>Latar belakang : Salah satu tempat yang dapat membantu bidan sebagai tenaga kesehatan yang berperan meningkatkan pelayanan yaitu PMB Rosidah yang dekat dengan masyarakat. Salah satunya&nbsp; merupakan salah satu PMB yang mendukung COC <em>(continuity of care) </em>dan sebagai tempat mahasiswa melakukan Asuhan berkelanjutan pada ibu hamil, bersalin, nifas dan BBL.&nbsp; Tujuan&nbsp; : Mampu melakukan Asuhan Kebidanan Berkelanjutan <em>(Continuity of Care) </em>Pada Ny. L di PMB Rosidah, S.ST, Bdn dengan pemikiran 7 langkah Varney dan pendokumentasian dengan SOAP. Metode Studi Kasus Studi kasus ini akan dilakukan untuk mempelajari hal yang berkaitan dengan asuhan kebidanan berkelanjutan pada Ny. L dan bayinya melalui proses asuhan kebidanan pada Ibu Hamil, Bersalin, BBL, Nifas. Studi kasus ini menggunakan alur pikir menurut Hellen Varney dan pendokumentasian dengan metode SOAP. Waktu pengambilan kasus dimulai dari 1 Oktober 2024 sampai 30&nbsp; Juni 2025 dan waktu pelaksanaan memberikan asuhan yaitu pada tanggal 1 Oktober 2024 sampai 30 Juni 2025. Hasil : Dari hasil pengkajian didapatkan Ny. L hamil kedua pernah melahirkan satu kali dan belum pernah keguguran. Usianya sekarang adalah 26 tahun. Hal ini menyatakan bahwa Ny. L termasuk kategori usia produktif, Pada Ny. L didapatkan hasil pemeriksaan pada tekanan darah yaitu dari 110/70 sampai dengan 120/80 mmHg Kesimpulan : Penulis mampu memberikan asuhan kebidanan pada masa kehamilan terhadap Ny. L di wilayah Puskesmas Bangun Galih Kabupaten Tegal dengan melakukan 1 kali kunjungan pada trimester 3.</p> <p>Kata kunci : asuhan kebidanan Hamil, Bersalin, BBL, Nifas</p> Veryanah Sunarsih, Putri Rahma Dini Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan Karya Bhakti https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/255 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Dismenorea Primer Pada Mahasiswa Keperawatan https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/232 <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p>Aktivitas fisik merupakan gerakan yang dihasilkan oleh tulang dan otot yang salah satu manfaatnya untuk melancarkan sirkulasi darah ke area pelvis. Di dunia jumlah wanita yang mengalami dismenorea mencapai 1.769.425 jiwa. Mahasiswi keperawatan angkatan 2019 memiliki tingkat dan jenis aktivitas fisik yang banyak seperti perkuliahan, kegiatan di laboratorium, praktik klinik di rumah sakit dan kegiatan wajib lainnya di asrama dan berdasarkan survei awal yang dilakukan kepada 275 mahasiswi terdapat 88,4% mahasiswi yang mengalami dismenorea primer. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi hubungan antara aktivitas fisik dengan dismenorea primer pada mahasiswi keperawatan. Metode yang digunakan metode kuantitatif deskriptif dengan desain penelitian cross sectional, jumlah sampel berjumlah 95 mahasiswi yang didapatkan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner aktivitas fisik dan kuesioner dismenorea. Hasil penelitian ini mendapatkan 53 (53,6%) responden dengan tingkat aktivitas fisik sedang mengalami dismenorea primer dan berdasarkan nilai hasil uji statistik menggunakan fisher exact test (p=0,019) yang artinya terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian dismenorea primer. Semakin sering aktivitas fisik dilakukan maka akan semakin rendah resiko seseorang untuk terkena dismenore primer. Penelitian tentang faktor-faktor lain yang berhubungan dengan timbulnya dismenorea primer direkomendasikan untuk penelitian selanjutnya.</p> </td> </tr> </tbody> </table> Magdalena Agung, Romana Fransisksa Nay Kudu, Sofia Karlina Dhosa, Joice Cathryne Copyright (c) 2025 Jurnal Keperawatan Karya Bhakti https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/232 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 Inhalasi Sederhana Meningkatkan Bersihan Jalan Napas pada Anak dengan ISPA https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/244 <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p><strong>Abstrak</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Latar Belakang: </strong>Infeksi saluran pernapasan akut menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Penyakit ini dapat menyerang semua kelompok usia, terutama pada bayi dan anak yang disertai dengan masalah bersihan jalan napas, dimana jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan masalah kesehatan lebih berat. <strong>Tujuan: </strong>untuk mengetahui penerapan inhalasi sederhana dalam upaya penatalaksanaan masalah bersihan jalan napas tidak efektif pada anak dengan ISPA. <strong>Metode Penelitian: </strong>Jenis penelitian ini yaitu studi kasus pada pasien anak dengan ISPA yang mengalami masalah bersihan jalan napas tidak efektif. Pengambilan data penelitian didasarkan pada data asuhan keperawatan yang dilakukan selama 3 hari. Pemberian inhalasi dilakukan 3 kali dalam 3 hari berturut-turut, dimana setiap kali pemberian intervensi selama 15 menit. <strong>Hasil: </strong>Sebelum terapi inhalasi sederhana diketahui An. A menunjukkan tanda-tanda bersihan jalan napas tidak efektif, dengan sputum cukup banyak, kesulitan mengeluarkan sputum, frekuensi napas meningkat, dan terdengar bunyi napas tambahan. Setelah intervensi diberikan terjadi perbaikan signifikan ditandai dengan tidak adanya sputum, frekuensi napas normal, dan hilangnya bunyi napas tambahan. <strong>Simpulan: </strong>Terapi inhalasi sederhana efektif dalam memperbaiki bersihan jalan napas. Terapi ini dapat dijadikan intervensi pendukung dalam manajemen kasus gangguan jalan napas di fasilitas pelayanan kesehatan.</p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Anak; inhalasi; jalan napas</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p> </p> <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p><strong>Abstract</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong><em>Background:</em></strong><em> Acute respiratory tract infection (ARI) is a major health problem in Indonesia. This disease can attack all age groups, especially infants and children who are accompanied by airway clearance problems, which if not treated immediately can cause more serious health problems. <strong>Objective:</strong> to determine the application of simple inhalation in the management of ineffective airway clearance in children with ARI. <strong>Research method:</strong> This type of research is a case study on pediatric patients with ARI who experience ineffective airway clearance problems. Data collection for the study was based on nursing care data carried out for 3 days. Inhalation was given 3 times in 3 consecutive days, where each intervention was given for 15 minutes. <strong>Results:</strong> Before simple inhalation therapy was known, An. A showed signs of ineffective airway clearance, with quite a lot of sputum, difficulty expelling sputum, increased respiratory rate, and additional breath sounds. After the intervention was given, there was significant improvement marked by the absence of sputum, normal respiratory rate, and the disappearance of additional breath sounds. <strong>Conclusion:</strong> Simple inhalation therapy is effective in improving airway clearance. This therapy can be used as a supporting intervention in the management of airway disorders in health care facilities.</em></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Keywords</strong>: <em>Airway</em><em>; c</em><em>hildren; inhalation</em></p> </td> </tr> </tbody> </table> Arba'i Musthofa Royyan, Witri Hastuti Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan Karya Bhakti https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/244 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 Senam Diabetes Efektif Menurunkan Kadar Glukosa Darah pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/256 <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p><strong>Abstrak</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p>Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat resistensi insulin dan gangguan fungsi sel beta pankreas. Salah satu pilar penatalaksanaan DM tipe 2 adalah aktivitas fisik seperti senam diabetes, yang berfungsi menurunkan kadar glukosa darah. Mengetahui pengaruh senam diabetes terhadap kadar glukosa darah pasien diabetes melitus tipe 2 di Prolanis PRB Puskesmas Rawa Bening Kecamatan Buay Madang Timur. Artikel ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan pre-eksperimental <em>one group pre-test post-test</em>. Sampel berjumlah 28 responden yang dipilih dengan teknik total sampling. Pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu dilakukan sebelum dan sesudah senam diabetes selama empat minggu. Uji normalitas data menggunakan Shapiro-Wilk menunjukkan distribusi tidak normal (p &lt; 0,05), sehingga analisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Median kadar glukosa darah sebelum senam sebesar 241 mg/dL (188–400 mg/dL), menurun menjadi 198 mg/dL (110–339 mg/dL) sesudah senam. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,000 (p &lt; 0,05), artinya terdapat perbedaan signifikan antara kadar glukosa darah sebelum dan sesudah senam diabetes. Senam diabetes berpengaruh signifikan dalam menurunkan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus tipe 2. Senam ini dapat dijadikan kegiatan rutin dalam program Prolanis di Puskesmas sebagai sarana non-farmakologis yang efektif untuk pengendalian glukosa darah.</p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Diabetes Melitus Tipe 2; Kadar Glukosa Darah; Senam Diabetes;</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p> </p> <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p><strong>Abstract</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><em>Type 2 diabetes mellitus is a chronic metabolic disease characterised by elevated blood glucose levels due to insulin resistance and impaired pancreatic beta cell function. One of the pillars of type 2 DM management is physical activity such as diabetes exercise, which serves to lower blood glucose levels. To determine the effect of diabetes exercise on blood glucose levels in type 2 diabetes mellitus patients at Prolanis PRB Puskesmas Rawa Bening, Buay Madang Timur District. This article uses a quantitative design with a pre-experimental one-group pre-test post-test approach. The sample consisted of 28 respondents selected using total sampling technique. Blood glucose levels were checked before and after four weeks of diabetes exercise. The Shapiro-Wilk normality test showed a non-normal distribution (p &lt; 0.05), so the analysis used the Wilcoxon Signed Rank Test. The median blood glucose level before exercise was 241 mg/dL (188–400 mg/dL), decreasing to 198 mg/dL (110–339 mg/dL) after exercise. The Wilcoxon test results showed a p-value of 0.000 (p &lt; 0.05), indicating a significant difference between blood glucose levels before and after the diabetes exercise programme. Diabetes exercise significantly affects the reduction of blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus. This exercise can be used as a routine activity in the Prolanis programme at the Community Health Centre as an effective non-pharmacological means of controlling blood glucose.</em></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Keywords</strong>: <em>Type 2 Diabetes Mellitus; Diabetes Exercise; Blood Glucose Levels;</em></p> </td> </tr> </tbody> </table> Asih Yuliyanti, Hardono Hardono, Mesya Mesya, Eko Wardoyo Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan Karya Bhakti https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/256 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 Penerapan Hipnosis 5 Jari Terhadap Kecemasan Penderita Hipertensi Pada Pasien Rehabilitas https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/260 <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p><strong>Abstrak</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p>Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Selain dampak fisik, hipertensi sering memicu kecemasan yang dapat memperburuk kondisi pasien. Teknik hipnosis lima jari merupakan metode relaksasi non-farmakologis yang dapat digunakan untuk menurunkan tingkat kecemasan<strong>. Tujuan</strong>: Mengetahui penerapan hipnosis lima jari terhadap tingkat kecemasan penderita hipertensi pada pasien rehabilitasi. <strong>Metode</strong>: Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Tingkat kecemasan diukur menggunakan <em>Self Reporting Questionnaire</em>-29 (SRQ-29). <strong>Hasil</strong>: Responden 1 memiliki skor kecemasan 20 (kecemasan dan depresi) dan Responden 2 memiliki skor 24 (kecemasan psikotik). Setelah dilakukan intervensi hipnosis lima jari selama tiga hari, skor kecemasan menurun menjadi 3 (kecemasan dan depresi) pada responden 1 dan 5 (kecemasan dan depresi) pada Responden 2. Selain itu, tekanan darah sistolik dan diastolik juga mengalami penurunan pada kedua responden. <strong>Kesimpulan</strong>: Hipnosis lima jari efektif menurunkan tingkat kecemasan pada pasien hipertensi. Teknik ini dapat menjadi salah satu alternatif terapi non-farmakologis yang mudah diterapkan oleh perawat dalam praktik keperawatan.</p> </td> </tr> </tbody> </table> Ikhwanudin Ikhwanudin, Nurhayati Nurhayati, Fandy Yoduke Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan Karya Bhakti https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/260 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 Lama Hemodialisis Mempengaruhi Perubahan Menstruasi pada Wanita Usia Subur https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/286 <p><strong>Latar Belakang: </strong>Hemodialisis merupakan tindakan medis sebagai pengganti fungsi ginjal untuk mengeluarkan sisa metabolisme dari darah. Lama hemodialisis dapat mempengaruhi kondisi psikologis dan fisik pasien, termasuk sistem reproduksi. Pada wanita usia subur, hemodialisis dapat mengubah sekresi hormon, yang bisa berdampak pada perubahan menstruasi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa wanita yang menjalani hemodialisis lebih lama lebih banyak mengalami perubahan menstruasi. Namun, belum ada yang memberikan informasi secara jelas tentang jenis perubahan menstruasinya. Perubahan menstruasi hanya dinyatakan berubah dan tidak berubah. <strong>Tujuan:</strong> mengetahui adanya hubungan antara lama hemodialisis dengan perubahan menstruasi pada wanita usia subur di Unit Hemodialisis RST dr. Soedjono Magelang. <strong>Metode:</strong> metode yang digunakan adalah <em>Cross-Sectional</em> dengan teknik pengambilan sampel berupa t<em>otal </em><em>s</em><em>ampling </em>terhadap 31 responden yang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Uji hipotesis menggunakan uji <em>Spearman Rank</em>. &nbsp;<strong>Hasil: </strong>Sebagian besar responden menjalani hemodialisis dua kali seminggu (90,3%) dan lama hemodialisis kurang dari 50 bulan (58,1%). Sebanyak 77,4% mengalami perubahan menstruasi. Hasil uji statistik menggunakan <em>Spearman Rank</em> menunjukkan <em>p value</em> 0,025 (p&lt;0,05). S<strong>impulan: </strong>Artikel ini menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan antara lama hemodialisis dengan perubahan menstruasi pada wanita usia subur di Unit Hemodialisis RST dr. Soedjono Magelang.</p> Uswatun Hasanah, Wiwin Renny Rahmawati, Yeni Yulistanti, Lulut Handayani Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan Karya Bhakti https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/286 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 Determinan Status Gizi Ibu Hamil https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/278 <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p><strong>Abstrak</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Status gizi ibu hamil yang buruk dapat berdampak serius bagi kesehatan ibu dan janin berupa peningkatan angka morbiditas maupun mortalitas. Badan Pusat Statistik Jateng mencatat jumlah ibu hamil dengan KEK di Kabupaten Temanggung masih cukup tinggi sehingga memerlukan perhatian khusus. Determinan status gizi ibu hamil perlu diketahui untuk dapat dilakukan upaya tindak lanjut yang tepat dalam mencegah terjadinya status gizi yang buruk. <strong>Tujuan</strong><strong>: </strong>mendeskripsikan faktor-faktor yang memengaruhi status gizi pada ibu hamil trimester 3 di wilayah kerja Puskesmas Traji, Temanggung. <strong>Metode: </strong>penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 30 orang ibu hamil di Puskesmas Traji, Temanggung pada bulan April-Juli 2024. Teknik pengumpulan data berupa pengisian kuesioner, pengukuran tinggi badan, berat badan dan lingkar lengan atas (LiLA) menggunakan timbangan dan mikrotois yang telah terkalibrasi. <strong>Hasil: </strong>Hasil uji <em>chi-square</em> menunjukkan bahwa usia, tingkat pengetahuan, paritas dan riwayat penyakit terbukti secara signifikan memengaruhi status gizi ibu hamil (p &lt; 0,05), sedangkan tingkat pendidikan, pekerjaan, dan pola makan tidak memengaruhi status gisi ibu hamil (p &gt; 0,05). Hasil uji regresi logistic menunjukkan tingkat pengetahuan sebagai faktor paling dominan yang memengaruhi status gizi ibu hamil (OR ; 4,83 ;95% CI: 1,8 – 13,4).</p> <p><strong>Kesimpulan</strong>: Faktor yang memengaruhi status gizi ibu hamil adalah usia, tingkat pengetahuan, paritas dan riwayat penyakit dimana tingkat pengetahuan merupakan faktor yang paling dominan.</p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Kata Kunci: </strong>determinan ; status gizi ; ibu hamil</p> </td> </tr> </tbody> </table> YENI YULISTANTI, TULUS PUJI HASTUTI, NOVEMA ASHAR NURAHMAN; MOH RIDWAN Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan Karya Bhakti https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/278 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 Terapi Murottal Al-Qur’an Menurunkan Tekanan Darah Pada Lansia Penderita Hipertensi https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/265 <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p>Lansia merupakan kelompok umur yang rentan terhadap berbagai penyakit akibat perubahan fisiologis tubuh. Pada tahap ini, terjadi penurunan fungsi organ yang berdampak pada melemahnya sistem imunitas. Salah satu masalah kesehatan yang umum dialami lansia adalah hipertensi, yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah terapi murottal Al-Qur’an karena memiliki efek relaksasi. Laporan pengabdian ini menggunakan desain studi kasus dengan tujuan membuktikan efektivitas terapi murottal Al-Qur’an dalam menurunkan tekanan darah pada lansia. Analisis data dilakukan melalui observasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terapi murottal Al-Qur’an mampu menurunkan tekanan darah dengan rata-rata penurunan sistolik sebesar 18,6 mmHg dan diastolik sebesar 17,1 mmHg. Oleh karena itu, disarankan agar lansia dengan hipertensi menggunakan terapi murottal Al-Qur’an sebagai salah satu cara untuk membantu menurunkan tekanan darah</p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Hipertensi, Lansia, Terapi Murotal</p> </td> </tr> </tbody> </table> Nisa Nurrohmah, Vovi Meidas Setia, Winda Afikirtiani Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan Karya Bhakti https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/265 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 Terapi Kompres Hangat Air Jahe Merah Mengurangi Rasa Nyeri Persendian Pada Lansia Dengan Gout Arthritis https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/271 <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p><strong>Abstrak</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Asam urat/ gout arthritis adalah penyakit yang mempengaruhi persendian, penyakit asam urat juga sangat umum di masyarakat, khususnya pada lansia. <strong>Tujuan:</strong> Untuk mengetahui manfaat pemberian terapi kompres hangat air jahe merah dapat mengurangi rasa nyeri pada lansia yang menderita asam urat. <strong>Metode Penelitian:</strong> Desain penulisan yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dengan menggunakan jenis pendekatan studi kasus untuk mendeskripsikan hasil asuhan keperawatan pada lansia yang menderita asam urat di wilayah kerja Puskesmas Kemiling Bandar Lampung. Data dikumpulkan melalui pengkajian, observasi, wawancara, dan pengukuran nyeri sebelum dan sesudah diberikan kompres hangat air jahe merah. <strong>Hasil:</strong> Hasil pada subjek 1 (Ny. S) pada hari pertama dengan skala nyeri 6 (nyeri sedang) dan pada hari ketujuh turun menjadi skala nyeri 1 (nyeri ringan). Pada subjek 2 (Ny. N) pada hari pertama dengan skala nyeri 5 (nyeri sedang) dan pada hari ketujuh turun menjadi skala nyeri 1 (nyeri ringan). Kedua subjek menunjukkan penurunan skala nyeri setelah diberikan kompres hangat air jahe merah selama 7 hari. <strong>S</strong><strong>impulan</strong><strong>:</strong> Pemberian terapi kompres hangat air jahe merah dapat mengurangi rasa nyeri pada lansia yang menderita asam urat dan dapat dijadikan alternatif pengobatan nonfarmakologi untuk menurunkan asam urat.</p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Kompres Hangat Air Jahe Merah; Nyeri; Asam urat</p> </td> </tr> </tbody> </table> Fatimah Wahab Aliun, Rinaldi Prima Saputra, Zulfikar Zulfikar, Sherly Destiyana Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan Karya Bhakti https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/271 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 Analisis Komprehensif: Stres Pengasuhan dan Strategi Koping pada Orang Tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/287 <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p><strong>Abstrak</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p>Orang tua yang mengasuh anak berkebutuhan khusus (ABK) menghadapi tantangan psikologis yang kompleks dan rentan mengalami tekanan emosional kronis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat parenting stress dan mengidentifikasi strategi koping dominan yang digunakan oleh orang tua di SLB Negeri Temanggung. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi penelitian adalah 279 orang tua siswa, dengan sampel sebanyak 77 orang tua yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan Skala Stres Pengasuhan (SSP) adaptasi Kumalasari et al. dan Skala Strategi Koping modifikasi Nasution &amp; Pratiwi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas orang tua (54,5%) mengalami tingkat stres pengasuhan yang tinggi, dengan skor rata-rata pada aspek ketegangan (<em>strain</em>) lebih tinggi daripada aspek kepuasan (<em>pleasure</em>). Orang tua ABK berada dalam posisi yang menantang namun resilien. Tingkat stres yang tinggi diseimbangkan dengan penggunaan strategi koping yang masih adaptif secara kultural, terutama Koping Religius dan <em>Escape-Avoidance</em>. Meskipun strategi penghindaran sering dipandang negatif, dalam konteks keterbatasan sumber daya di Indonesia, strategi ini berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri untuk menjaga kewarasan jangka pendek. Nilai-nilai budaya seperti pasrah dan <em>nrimo</em> menjadi fondasi kekuatan mental yang membedakan profil koping orang tua Indonesia dengan di Barat. Tenaga kesehatan perlu merancang program intervensi yang juga berfokus pada kesehatan mental orang tua, untuk menggeser strategi koping dari <em>Escape</em> menuju <em>Positive Reappraisal</em> dan <em>Problem Solving</em>. Pembentukan kelompok dukungan (<em>peer support group</em>) di sekolah dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi isolasi sosial dan memberikan wadah berbagi strategi pengasuhan yang konstruktif.</p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Anak Berkebutuhan Khusus; Orang Tua; Strategi Koping; Stres Pengasuhan</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p> </p> Retno Lusmiati Anisah, Parmilah, Yuni Susilowati Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan Karya Bhakti https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/287 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 Senam Kaki Diabetik Terhadap Sensitivitas Kaki Pada Penderita Diabetes Melitus https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/302 <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p><strong>Abstrak</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p>Diabetes <em>melitus</em> merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah akibat gangguan produksi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Diabetes melitus yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan dampak serius yaitu dapat mengalami penurunan sensitivitas kaki akibat neuropati diabetik. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya luka, ulkus, dan komplikasi lainnya pada kaki, sehingga dapat menurunkan kualitas hidup penderita. Intervensi non farmakologis seperti senam kaki diabetik dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan sensitivitas kaki dan mencegah komplikasi. Berdasarkan observasi awal terhadap 10 penderita diabetes melitus yang bersedia diperiksa, ditemukan bahwa 70% responden mengalami penurunan sensitivitas kaki dengan gejala kesemutan, mati rasa, atau berkurangnya kemampuan merasakan tekanan dan panas/dingin. Kegiatan ini bertujuan mengetahui pengaruh senam kaki diabetik terhadap peningkatan sensitivitas kaki pada penderita diabetes melitus di Desa Sidorejo Bandongan Kabupaten Magelang. Metode dalam artikel ini adalah kuantitatif dengan pendekatan pre eksperimen <em>one group pre test post tes</em>t.&nbsp; Populasi penelitian ini adalah penderita diabetes melitus sejumlah 35 orang di Desa Sidorejo, Bandongan. Pelaksanaan dilakukan bulan November 2025 hingga bulan Januari 2026. Hasil uji statistik menggunakan analisis uji <em>paired t-test</em> jika data terdistribusi normal dan uji Wilcoxon jika data tidak terdistribusi normal. Nilai signifikansi&nbsp;&nbsp; kaki kanan menunjukkan nilai <em>p-value</em> = 0,096 yang berarti p &gt; 0,05, sehingga disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan sensitivitas kaki kanan sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki. Nilai signifikansi&nbsp;&nbsp; kaki kiri menunjukkan nilai&nbsp;&nbsp; <em>p-value</em> = 0,130 yang berarti p &gt; 0,05, sehingga disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan sensitivitas kaki kiri sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki.</p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Kata Kunci</strong> : Diabetes melitus; Sensitivitas kaki; Senam kaki diabetik.</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>&nbsp;</p> <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p><strong>Abstract</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><em>Diabetes mellitus is a chronic metabolic disease characterized by elevated blood sugar levels due to impaired insulin production, insulin action, or both. Untreated diabetes mellitus can have serious consequences, including decreased foot sensitivity due to diabetic neuropathy. This condition increases the risk of wounds, ulcers, and other foot complications, which can reduce the patient's quality of life. Non-pharmacological interventions such as diabetic foot exercises can be an alternative to improve foot sensitivity and prevent complications.. Based on initial observations of 10 diabetes mellitus sufferers who were willing to be examined, it was found that 70% of respondents experienced decreased sensitivity in their feet with symptoms of tingling, numbness, or reduced ability to feel pressure and heat/cold. </em><em>This activity aims to</em><em>This study aimed to determine the effect of diabetic foot exercises on increasing foot sensitivity in diabetes mellitus patients in Sidorejo Bandongan Village, Magelang Regency. The method used in this article is quantitative with a pre-experimental approach one group pre test post test. The population of this study was 35 people with diabetes mellitus in Sidorejo Village, Bandongan. The study was conducted from November 2025 to January 2026. The results of the statistical test used a test analysis.paired t-testif the data is normally distributed and the Wilcoxon test if the data is not normally distributed. The significance value of the right leg shows the valuep-value= 0.096 which means p &gt; 0.05, so it is concluded that there is no significant difference in the sensitivity of the right leg before and after doing foot exercises. The significance value of the left leg shows the valuep-value= 0.130 which means p &gt; 0.05, so it is concluded that there is no significant difference in the sensitivity of the left leg before and after foot exercises.</em></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Keywords</strong>: <em>Diabetes mellitus; Foot sensitivity; Diabetic foot exercise.</em></p> </td> </tr> </tbody> </table> Emah Marhamah, Evy Tri Susanti, Agus Setiyawan, Ida Rianawaty, Kurniawan Bagus Sugiarto, Alfi Riza, Nadiatulhikmah Ayu Rizqi P Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan Karya Bhakti https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/302 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 Peran Self-Diagnose Dalam Deteksi Dini Kecemasan Mahasiswa Di Magelang: Kajian Cross-Sectional https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/303 <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p><strong>Abstrak</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Latar Belakang: </strong>Kecemasan merupakan keadaan emosional yang ditandai oleh perasaan khawatir, takut, dan tidak nyaman yang muncul sebagai respons terhadap situasi atau ancaman yang dianggap membahayakan, baik yang bersifat nyata maupun yang hanya dipersepsikan oleh individu. Namun, apabila kecemasan terjadi secara berlebihan, berlangsung dalam waktu yang lama, dan mengganggu aktivitas serta fungsi kehidupan sehari-hari, maka kondisi tersebut dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan individu. Menurut penelitian 33,7% mahasiswa mengalami kecemasan pada tingkat menengah, mahasiswa perlu melakukan <em>self-diagnose</em> sebagai langkah awal untuk mengenali kondisi kesehatan mental yang mereka alami, mengingat tingginya tekanan akademik, sosial, dan tuntutan masa depan selama masa perkuliahan. <strong>Tujuan:</strong> mengetahui hubungan antara <em>self-diagnose</em> kesehatan mental dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa di Kota Magelang. <strong>Metode: </strong>Metode dalam artikel ini adalah kuantitatif korelasi dengan pendekatan <em>cross sectional</em>, &nbsp;Populasi penelitian ini adalah seluruh pengunjung “Mini Festival SEJENAK<em> (A Brief Moment to Pause)</em>” yang diselenggarakan di&nbsp; Gedung Auditorium Edusmart Soerojo Hospital pada tanggal 12 November 2025 dan “KMI Expo 2025” di Universtitas Tidar pada tanggal 19-20 November 2025 sebanyak 85 orang. Pelaksaan dilakukan pada bulan Oktober hingga bulan Januari 2025.<strong> Hasil: </strong>Hasil uji statistik menggunakan analisis Spearman Rank menunjukkan nilai p-value = 0,000, yang berarti p &lt; 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara <em>self diagnose mental disorders</em> dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa di Kota Magelang. Nilai koefisien korelasi r = 0,816 menunjukkan adanya hubungan yang sangat kuat dengan arah positif. <strong>Simpulan:</strong> Hal ini menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat <em>self diagnose mental disorders</em>, maka tingkat kecemasan cenderung semakin ringan.</p> <p>&nbsp;</p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Kata Kunci</strong> : Cemas; Mahasiswa; Self diagnose.</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>&nbsp;</p> <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p><strong>Abstract</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong><em>Background:</em></strong><em> Anxiety is an emotional state characterized by feelings of worry, fear, and discomfort that arise in response to situations or threats perceived as harmful, whether real or imagined. However, when anxiety occurs excessively, persists over a prolonged period, and interferes with daily activities and functioning, it can negatively affect mental health and overall well-being. Previous research indicates that 33.7% of university students experience moderate levels of anxiety. Students need to engage in self-diagnosis as an initial step to recognize their mental health condition, considering the high academic, social, and future-related pressures encountered during university life. <strong>Objective:</strong> To determine the relationship between mental health self-diagnosis and anxiety levels among university students in Magelang City. <strong>Methods:</strong> This study employed a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. The study population consisted of all visitors to the “Mini Festival SEJENAK (A Brief Moment to Pause)” held at the Edusmart Auditorium, Soerojo Hospital, on November 12, 2025, and the “KMI Expo 2025” at Universitas Tidar on November 19–20, 2025, totaling 85 participants. Data collection was conducted from October to January 2025. Statistical analysis was performed using the Spearman Rank correlation test. <strong>Results:</strong> The Spearman Rank analysis yielded a p-value of 0.000 (p &lt; 0.05), indicating a statistically significant relationship between mental health self-diagnosis and anxiety levels among university students in Magelang City. The correlation coefficient (r = 0.816) demonstrated a very strong positive correlation.&nbsp; <strong>Conclusion:</strong> The findings indicate that lower levels of mental health self-diagnosis are associated with lower levels of anxiety.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Keywords</strong>: <em>Anxiety; Students; Self-diagnosis.</em></p> </td> </tr> </tbody> </table> Agus Setiyawan, Novida Prima Wijayanti, Wahyu Tri Astuti, Kurniawan Bagus Sugiarto, Siswanto Siswanto Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan Karya Bhakti https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/303 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700 Literature Review Of The Implementation Of Mindful Parenting In Parenting Patterns https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/289 <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p><strong>Abstrak</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p>Penerapan pola asuh pada era sekarang ini mengalami beberapa kendala salah satunya dalam melakukan komunikasi, salah satu metode pola asuh <em>mindful</em> dapat membantu dalam mengatasi permasalahan tersebut. Tujuan dari penelitian ini mengkaji penerapan <em>mindful parenting</em> dalam pola asuh orang tua. Penelitian ini adalah penelitian metode penelitian yang digunakan dalam tinjauan ini dengan literature review. Literature review yang digunakan dalam penelitian ini kami lakukan dengan mencari sumber dari berbagai artikel dan jurnal penelitian terindeks nasional seperti Pubmed, Science direct, ProQuest, EBSCO, Taylor &amp; Francis, Google Scholar, batas maksimal publikasi artikel penelitian dalam kurun waktu 5 tahun terakhir periode tahun 2020-2025. Artikel penelitian yang didapatkan sebanyak 8 artikel, dianalisis dan disintesis dalam format tabel berisi judul, penulis, tahun, metodologi, dan hasil. Penerapan pola asuh <em>mindful parenting</em> dapat diterapkan pada anak pra sekolah, sekolah sampai remaja, pola asuh ini terbukti meningkatkan kualitas pengasuhan, mendukung perkembangan sosial-emosional anak, mengurangi stress pada orang tua serta memperkuat kesejahteraan keluarga.</p> <p> </p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Kata Kunci</strong> : Pola asuh; Orang tua; Mainfulness.</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p> </p> <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="605"> <p><strong>Abstract</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><em>The implementation of parenting in the current era faces several obstacles, one of which is communication. One method, mindful parenting, can help overcome these problems. The purpose of this study is to examine the application of mindful parenting in parenting. This study is a research method used in this review with a literature review. The literature review used in this study was conducted by searching for sources from various nationally indexed research articles and journals such as Pubmed, Science direct, ProQuest, EBSCO, Taylor &amp; Francis, Google Scholar, with a maximum publication limit for research articles within the last 5 years, 2020-2025. Eight research articles were obtained, analyzed and synthesized in a table format containing the title, author, year, methodology, and results. The application of mindful parenting can be applied to preschoolers, school children, and adolescents. This parenting pattern has been proven to improve the quality of care, support children's social-emotional development, reduce stress on parents, and strengthen family well-being.<br /><br /></em></p> </td> </tr> <tr> <td width="605"> <p><strong>Keywords</strong>: <em>Parenting; Parents; Maindfulness.</em></p> </td> </tr> </tbody> </table> Triana Widiastuti, Ayu Trisni Pamilih, Lailatul Mustaghfiroh Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan Karya Bhakti https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://journal.akperkbn.com/index.php/jkkb/article/view/289 Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0700